Category Archive : Umum

SEJARAH PENULISAN SEJARAH

1.1 LATARBELAKANG

Penulisan sejarah adalah usaha rekontruksi peristiwa yang tejadi di masa lampau. Penulisan itu bagaimana pun baru dapat dikerjakan setelah dilakukannya penelitian, karena tanpa penelitian penulisan menjadi rekontruksi tanpa pembuktikan. Baik penelitian dan penulisan membutuhkan keterampilan. Dalam penelitian dibutuhkan kemampuan untuk mencari, menemukan, dan menguji sumber-sumber yang benar. Sedangkan dalam penulisan dibutuhkan kemampuan menyusun fakta-fakta, yang bersifat fragmentasi itu, kedalam suatu uraian yang sistematis, utuh dan komunikatif.
Keduanya membutuhkan kesadaran teoritis yang tinggi serta imajinasi historis yang baik. Sehingga, sejarah yang dihasilkan bukan saja dapat menjawab pertanyaan-pertanyaan elementer, yang terkait pada pertanyaan pokok, tentang “apa, siapa, dimana, dan apabila”, tetapi juga mengenai “bagaimana” serta “mengapa dan apa jadinya”. Jawaban terhadap pertanyaan-pertanyaan elementer dan mendasar itu adalah “fakta sejarah” dan merupakan unsur yang memungkinkan adanya “sejarah”. Sedangkan jawaban terhadap “bagaimana” adalah suatu rekontruksi yang berusaha menjadikan semua unsur itu terikat dalam suatu deskripsi yang disebut “sejarah”, dan secara teknis disebut “keterangan historis” (historical explanation). Adapun jawaban terhadap pertanyaan “mengapa dan apa jadinya” yang menyangkut masalah kasualitas adalah hasil puncak yang bisa diharapkan dari studi sejarah yang biasa juga disebut sebagai studi sejarah kritis.
1.2 RUMUSAN MASALAH
Dari uraian diatas, dapat disimpulkan rumusan masalah sebagai berikut:
1. Apa itu sejarah penulisan sejarah?
2. Bagaimana sejarah perkembangan penulisan sejarah di dunia?
3. Bagaimana sejarah perkembangan penulisan sejarah periode Islam?
4. Bagaimana sejarah perkembangan penulisan sejarah di Indonesia?

1.3 TUJUAN PENULISAN
Adapun tujuan dari pembuatan makalah ini adalah sebagai berikut:
1. Mengetahui pengertian dari sejarah penulisan sejarah.
2. Mengetahui perkembangan penulisan sejarah di dunia.
3. Mengetahui perkembangan penulisan sejarah periode Islam.
4. Mengetahui perkembangan penulisan sejarah di Indonesia.


Sumber: https://www.gurupendidikan.co.id/jasa-penulis-artikel/

ISTILAH DAN DEFINISI SEPUTAR KEWARGANEGARAAN

Civics atau ilmu kewarganegaraana adalah ilmu yang membicarakan hubungan manusia dengan manusia, manusia dengan perkumpulan-perkumpulan yang teroganisir, dan hubungan individu-individu dengan negara. Civics merupakan salah satu cabang ilmu politik dan pada intinya berhubungan dengan pemerintahan, hak dan kewajiban warga dalam sebuah negara.
Istilah lain yang hampir sama dengan Civics adalah Citizenship yang berarti kewarganegaraan. Menurut Stanley E. Diamond citizenship adalah sesuatu yang berkenaan dengan aktivitas sekolah yang mempunyai dua lipatan, lebih mengerucut lagi ia mencakup kelegalan status negara dan aktivitas yang berhubungan dengan politik, organisasi pemerintahan, saham perusahaan, dan tentang hak dan tanggung jawab. Gerakan Community Civics yang dipelopori oleh W.A Dunn pada tahun 1907 adalah gerakan yang bermula dari keinginan yang lebih funsgsional terhadap matakuliah bagi para peserta didik dengan menghadapkan mereka pada lingkungan atau kehidupan sehari-hari dalam hubungan ruang lingkup lokal, nasional, maupun internasioanal. Gerakan lain yang memiliki alasan lahir yang sama dengan Community Civics adalah gerakan Civic Education atau bisa disebut Citizenship Education, dalam bahasa Indonesia dapat diartikan sebagai pendidikan kewarganegaraan dan kewargaan. [4]

` Pendidikan kewargaan secara substantif

tidak mendidik generasi muda Indonesia menjadi warga negara yang cerdas dan sadar akan hak dan kewajibanya dalam konteks kehidupan bermasyarakat dan bernegara, melainkan juga membangun kesiapan warga negara untuk menjadi warga global (dunia). Jadi cakupan Pendidikan Kewarganegaraan secara substantif lebih luas daripada Pendidikan Kewarganegaraan.
Pada tahun 1990 an Pendidikan Kewargaan menemukan momentumnya dengan pemahaman yang berbeda-beda. Beberapa ahli menyatakan bahwa pendidikan kewargaan diidentikan dengan dengan Pendidikan Demokrasi dan dan Pendidikan HAM. Menurut Azyumardi Azra Pendidikan Demokrasi secara substantif menyangkut sosialisasi, penyebarluasan dan aktualisasi konsep, sistem, nilai, budaya, dan praktik demokrasi pendidikan. Sedangkan Pendidikan HAM mengandung pengertian sebagai aktivitas mentransformasikan nilai-nilai HAM agar tumbuh kesadaran dan penghormatan , perlindungan, dan penjaminan HAM sebagai suatu kodrat yang dimiliki setiap manusia. Masih menurut Azra, Pendidikan Kewargaan adalah pendidikan yang cakupannya lebih luas dari pendidikan demokrasi dan pendidikan HAM karena mencakup kajian dan pembahasan tentang pemerintahan, konstitusi, rule of law, hak dan kewajiban warga negara, proses demokrasi, dan hal-hal yang berkaitan dengan kewarganegaraan.[5]
Dengan adanya Civic Education diharapkan dapat menolong peserta didik untuk mengetahui, memahami, dan dapat mengapresiasi cita-cita nasioanal. Serta dapat membuat keputusan-keputusan yang cerdas dan bertanggung jawab dalam berbagai masalah, baik masalah pribadi,masyarakat, dan negara.

Recent Posts

PRINSIP-PRINSIP KEWARGANEGARAAN

DASAR HUKUM PENDIDIKAN KEWARGANEGARAAN

Prinsip adalah suatu asas atau dasar kebenaran yang menjadi pokok dasar berfikir dan bertindak. Sedangkan kewarganegaraan adalah hal-hal yang berhubungan dengan warga negara[1]. Jadi prinsip kewarganegaraan adalah asas-asas yang berhubungan dengan warga negara.
Berdasarkan undang-undang No. 2 tahun 1989 tentang Sistem Pendidikan Nasional Pasal 39 ayat (2) menyebutkan bahwa isi kurikulum setiap jenis dan jalur pendidikan wajib harus memuat (a) Pendidikan Pancasila, (b) Pendidikan Kewarganegaran, (c) Pendidikan Agama. Dalam tingkat perguruan tinggi. Pendidikan Kewarganegaraan dalam tingkat perkuliahan diwujudkan melalui matakuliah Pendidikan Kewiraan yang diterapakan dari UU No. 2/1989. Setelah perubahan politik dari era ototiter ke era demokrasi, Pendidikan Kewarganegaraan melalui Pendidikan Kewiraan dianggap sudah tidak relevan dengan semangat demokrasi dan reformasi. Jadi setelah lahirnya masa Orde Baru Pendidikan Kewiraan digantikan dengan Pendidikan Kewargaan (Civic Education).[2]
Upaya pergantian matakuliah Pendidikan Keperwiraan menjadi Pendidikan Kewargaan tidak lepas dari peran serta kalangan perguruan tinggi untuk menemukan format baru pendidikan demokrasi yang relevan. Dalam catatan historis Indonesia, kurikulum pendidikan nasional tentang pendidikan demokrasi di Indonesia terus mengalami perkembangan dan perubahan sebagai berikut :
1. Civic (1957-1962)
2. Manipol dan USDEK Pancasila dan UUD (1960 an)
3. Pendidikan Kemasyarakatan (1964)
4. Pendidikan Kewarganegaraan Negara (1968-1969)
5. Pendidikan Civics dan Hukum (1973)
6. Pendidikan Moral Panacasila (1975-1984)
7. Filsafat Pancasila (1970-sekarang)
8. PPKN (1994)
9. Pendidikan Kewiraan (1989-1990)
10. Pendidikan Kewargaan (2000-sekarang)[3]
Pergantian nama dan istilah dalam pendidikan demokrasi di Indonesia menunjukkan adanya suatu dinamika untuk menanamkan nilai-nilai demokrasi sejak bangku pelajar. Yang patut disayangkan adanya distorsi atau penyelewengan hakikat pendidikan kewarganegaraan. Banyak yang dimanfaatkan untuk kepentingan para penguasa yang mana ingin mempertahankan kekuasaan dan mencitapkan status quo. Adanya kehadiran Pendidikan Kewargaraan pada masa reformasi, diharapkan akan mampu mengantar bangsa Indonesia menciptakan negara demokrasi, negara hukum, negara madani yang ideal bagi seluruh masyarakat. Maka implementasi dan apresiasi Pendidikan Kewargaan harus diperhatikan terutama dalam dunia pendidikan.


Sumber: https://belantaraindonesia.org/

Sistem Pendidikan Surau

Surau merupakan istilah yang banyak digunakan di asia tenggara seperti sumatera selatan , semenanjung mlaysia petani. Namun yang paling banyak dipergunakan di pergunakan di minangkabau. Surau berasal dari India yang merupakan tempat yang digunakan sebagai pusat pembelajaran dan pendidikan Hindu Budha.
Dalam lembaga pendidikan surau tidak mengeal birokdiasi formal,sebagaimana yang di jumpai pada lembaga pendidikan modern.Sistem pendidikan di surau tidak mengenal jenjang atau tingkatan kelas, muridnya diberikan kebebasan utuk memilih belajar pada kelompok mana yang ia kehendaki

Sistem Pendidikan Pesantren

Asal usul Pesantren
Pertama pesantren adalah institusi pendidikan islam, yang memang berasal dari tradisi islam.Pesantran lahir dari pola kehidupan tasawuf yang kemudian berkembang diwilayah islam, seperti timur tengah dan afrika utara yang dikenal dengan sebutan zawiyat. Kedua pesantren merupkan kelanjutan dari tradisi Hindu Budha yang sudah mengalami proses islamisasi. Mereka melihat adanya hubungan antara perkataan pesantren dengan kata shastri dari bahasa sanskerta.
Pengaruh Kebijakan Kolonial Belanda Terhadap Pendidikan Islam
Setidaknya ada dua kebijakan belands yaitu: politik etis dan Ordonansi( peraturan pemerintah) Guru/ Sekolah Liar.

a). Politis etis
Secara konsep politik etis sangat baik karena adanya keberpihankan kepada kaum pribumi.Namun dalam pelaksanaannya kolonial belanda bekerjasama dengan kaum liberal( pemegang saham), tetap mengeksplotir daerah jajahannya untuk kepentingan ekonominya. Dalam menjalankan politik etis belanda menerapkan trilogy program, yaitu meliputi: edukasi( pendidikan), irigasi( pengairan) dan transmigrasi( pemindahan penduduk dari daerah padat ke daerah perkebunan jawa). Di samping trilogi program tersebut, penjajah belanda menerapkan prinsip assosiasi,asimilasi dan unifikasi
b). Ordonasi Guru/ Sekolah Liar
Sehubungan dengan berdirinya madarasah dan sekolah Agama yang diselenggarakan oleh kalangan Islam pembaru, Adanya kekhawatiran pemerintah tersebut cukup beralasan. Tetapi setelah melihat perkembangan lebih lanjut, seperti peningkatan jumlah madrasah dan sekolah-sekolah swasta sebagai istitusi pendidikan diluar sistem persekolahan pemerintah, kalangan pemerintah semakin hati-hati terhadap sikap netral mereka selama ini. Adanya latar belakang tersebut pula barangkali, yang mendorong pemerintah Belanda merubah sikapnya dalam menghadapi kemungkinan buruk yang bakal timbul dari penigkatan jumlah madrasah dan sekolah-sekolah agama. Sebagai tindakan pencegahan, langkah itu dilakukan melalui pengawasan terhadap sekolah-sekolah liar. Sejak adanya penurunan sikap tersebut, dalam rangka pengawasan dikeluarkan ordinansi tanggal 28 Maret 1923 Lembaran negara no 136 dan 260. Bahkan dalam orodinansi yang dikeluarkan tahun 1932, dinyatakan bahwa semmua sekolah yang tidak di bangun pemerintah atau tidak memperoleh subsidi dari pemerintah, diharuskan minta izin terlebih dahulu, sebulum sekolah itu didirikan.


Sumber: https://robinschone.com/

Pendekatan Filologi dalam Studi Islam

1. Pengertian Filologi

Filologi berasal dari kata dalam bahasa Yunani, yaitu kata “philos” yang berarti ‘cinta’ dan “logos” yang berarti ‘pembicaraan’, ‘kata’ atau ‘ilmu’.Arti ini kemudian berkembang menjadi “senang belajar”, “senang kepada ilmu” atau “senang kebudayaan”, hingga dalam perkembangannya sekarang filologi identik dengan ‘senang kepada tulisan-tulisan yang ‘bernilai tinggi’. Sebagai istilah, kata ‘filologi’ mulai dipakai kira-kira abad ke-3 SM oleh sekelompok ilmuwan dari Iskandariyah. Istilah ini digunakan untuk menyebut keahlian yang diperlukan untuk mengkaji peninggalan tulisan yang berasal dari kurun waktu beratus-ratus tahun sebelumnya.
Dalam perkembangannya, filologi menitikberatkan pengkajiannya pada perbedaan yang ada dalam berbagai naskah sebagai suatu penciptaan dan melihat perbedaan-perbedaan itu sebagai alternatif yang positif. Dalam hubungan ini suatu naskah dipandang sebagai penciptaan kembali (baru) karena mencerminkan perhatian yang aktif dari pembacanya. Sedangkan varian-varian yang ada diartikan sebagai pengungkapan kegiatan yang kreatif untuk memahami, menafsirkan, dan membetulkan teks bila ada yang dipandang tidak tepat.
Obyek kajian filologi adalah teks, sedang sasaran kerjanya berupa naskah. Naskah merupakan istilah yang digunakan untuk menggambarkan peninggalan tulisan masa lampau, dan teks merupakan kandungan yang tersimpan dalam suatu naskah. ‘Naskah’ sering pula disebut dengan ‘manuskrip’ atau ‘kodeks’ yang berarti tulisan tangan, yang mempunyai karaktristik bahwa naskah tersebut tercipta dari latar social budaya yang sudah tidak ada lagi atau yang tidak sama dengan latar social budaya masyarakat pembaca masa kini dan kondisinya sudah rusak.
2. Pendekatan Filologi dalam Studi Islam
Az-Zamakhsyari, sebagaimana dikutip Nabilah Lubis, mengungkapkan kegiatan filologi sebagai tahqiq al-kutub.Secara bahasa, tahqiq berarti tashhih (membenarkan/mengkoreksi) dan ihkam (meluruskan). Sedang secara istilah, tahqiq berarti menjadikan teks yang ditahkik sesuai dengan harapan pengarangnya, baik bahasanya maupun maknanya. Dari definisi ini, dapat dipahami bahwa tahqiq bertujuan untuk menghadirkan kembali teks yang bebas dari kesalahan-kesalahan dan sesuai dengan harapan penulisnya. Tahqiq sebuah teks atau nash adalah melihat sejauh mana hakikat yang sesungguhnya terkandung dalam teks tersebut.
Bangsa Arab pra-Islam dikenal dengan karya-karya syair maupun sastra prosanya. Karya yang paling terkenal adalah “Muallaqat” (berarti “yang tergantung),berupa qasidah-qasidah panjang dan bagus yang digantungkan pada dinding Ka’bah dengan tujuan agar dibaca masyarakat Arab pada hari-hari pasar dan keramaian lainnya.
Penelitian naskah Arab telah lama dimulai, terlebih pada masa pemerintahan Khalifah Abu Bakar. Pada masa itu, nash al-Qur’an mulai dikumpulkan dalam satu mushaf. Hal ini membutuhkan ketelitian untuk menyalin teks-teks al-Quran ke dalam mushaf tersebut. Ayat-ayat al-Quran yang sebelumnya tertulis secara berserakan pada tulang belulang, kulit pohon, batu, kulit binatang, dan sebagainya dipindah dan disalin pada sebuah mushaf dan dijadikan satu. Pekerjaan menyalin ayat-ayat al-Quran ini dilaksanakan dengan ketelitian menyangkut orisinalitas wahyu ilahy yang harus senantiasa dijaga.
Setelah Islam tumbuh dan berkembang di Spanyol pada abad ke-8 Masehi sampai abad ke-15 Masehi, pada zaman Dinasti Bani Umayyah ilmu pengetahuan Yunani yang telah diterima bangsa Arab kemudian kembali ke Eropa dengan epistemologi Islam. Puncak kemajuan karya sastra Islam ini mengalami kejayaannya pada masa Dinasti Abbasiyah. Karya tulis al-Ghazali, Fariduddin Attar, dan lainnya yang bernuansa mistik berkembang maju di wilayah Persia dan dunia Islam. Karya Ibnu Rusyd, Ibnu Sina dan yang lain menjadi rujukan wajib mahasiswa dan merupakan lapangan penelitian yang menarik pelajar di Eropa.

Recent Posts

PENDEKATAN BAHASA DAN FILOLOGI DALAM STUDI ISLAM

Pendekatan Bahasa (Linguistik)

1. Pengertian Bahasa (linguistic)
Bahasa sebagai alat komunikasi harus dapat dipahami dan dimengerti, untuk itu bahasa harus bersifat sistematis dan sistemis. Bahasa mesti bersifat sistematis karena bahasa memiliki kaidah atau aturan tertentu, dan bersifat sistemis karena memilki subsistem, yaitu, subsistem fonologis, subsistem gramatikal dan subsistem leksikal. Beberapa tokoh mengartikan bahasa.
Ibnu Jinni, seorang linguis Arab mendefinisikan bahasa sebagai bunyi yang digunakan oleh setiap kaum untuk menyampaikan maksudnya. Bunyi-bunyi bahasa menurut Plato secara implisit mengandung makna-makna tertentu. Kridalaksana sebagaimana yang dikutip oleh Aminuddin mengartikan bahasa sebagai sistem lambang arbitrer yang dipergunakan suatu masyarakat untuk berkerja sama, berinteraksi dan mengindentifikasi diri.
Ferdinand De Saussure yang sering disebut Bapak atau pelopor linguistik, Leonard Bloomfield, Jhon Rupert Firth, Noam Chomsky dsb, merupakan tokoh-tokoh bahasa dari Barat. Sedangkan dalam Islam ada beberapa nama seperti abu Aswad ad-Duali, imam Khalil, Sibaweh, Ibnu Jinni, Ibnu Faris dan yang lainnya
2. Pendekatan Bahasa dalam Studi Islam
Bahasa (linguistik) dalam hal ini memegang peran yang cukup penting dalam memahami teks-teks keagamaan. Tidak hanya yang termaktub dalam al-Qur’an tetapi juga terhadap hadist nabi. Dalam ajaran Islam banyak aturan dan ritual keagamaan yang berkaitan dengan trem-trem kebahasaan, seperti konsep kepercayaan yang terwakili oleh istilah, iman, Islam, mukmin, kafir, fasik, murtad dan sebaginya. Lalu ada juga istilah-istilah keagamaan yang berkaitan dengan relasi Tuhan dan manusia, seperti konsep Ibadah, jihad, hijrah, haji, zakat dan lain sebagainya. Pemahaman tentang konsep-konsep keagamaan diawali dari pemahaman dari sudut kebahasaan sangat diperlukan, seperti contoh kata zakat, pada awalnya kata zakat merujuk pada makan tumbuh/berkembang secara umum, namun setelah datang Islam, kata zakat memiliki makna yang lebih menyempit merujuk kepada, batasan yang telah diwajibkan untuk dikelurkan dan diberikan kepada yang berhak dari harta yang telah sampai pada nasab yang telah ditentukan .
Secara teori kebahasaan, suatu bahasa akan dapat mengalami perkembangan, pergeseran atau bahkan perubahan makna, hal tersebut bisa dalam bentuk meluas ataupun menyempit. Perubahan makna dapat juga berarti penggantian rujukan, rujukan yang pernah ada diganti dengan rujukan yang baru . Kata hijrah misalnya secara leksikal ia memilki makna “keluar dari satu negeri ke negeri yang lain” . Namun ketika kata hijrah telah terhubung dengan kata iman dan jihad dalam sebuah kalimat maka makna yang terkandung didalamnya tidak hanya sekedar sebuah aktifitas perpindahan badan dari satu tempat ketempat yang lain. Dalam konteks ini kata hijrah akan mengalami perkembangan makna yang bisa jadi mengarah kepada perluasan maupun penyempitan.
Islam sebagai agama telah memberikan pencerahan dan pembaharuan dari segala bidang, baik itu kebudayaan, kepercayaan, tatanan hidup bermasyarakat, bernegara dan termasuk juga didalamnya pembaharuan dari segi kebahasaan. Beberapa kunci terminologi etika Jahiliyah telah mengalami transformasi semantik yang spesifik, seperti karīm yang merupakan pengertian dari karam dan lawan dari bakhīl terdapat dalam al-Qur’an sebanyak 47 kali dengan berbagai pengertiannya. Pada awalnya karīm merupakan cita-cita Jahiliyah tertinggi dalam hal kedermawanan tanpa perhitungan sebagai pendapat langsung dari kemuliaan. Kemudian menghadapi transformasi ke dalam sesuatu semantik yang mendalam, pada saat yang sama, dan dalam kaitannya dengan hal itu, kata karim lalu diterapkan kepada seseorang yang sungguh-sungguh percaya dan taat, yang bukannya menghabiskan kekayaannya dengan membabi buta, tanpa berpikir panjang dan semata-mata untuk pamer, namun sama sekali tidak ragu-ragu untuk menggunakan kekayaannya untuk tujuan yang jelas dan benar-benar “mulia” berdasarkan konsep yang baru, yakni membelanjakan kekayaanya “dijalan Allah .


Sumber: https://scorpionchildofficial.com/

Pemikiran politik Islam pada era modern

“Abad ke-19 hingga awal abad ke-20 memperlihatkan sosok buram wajah dunia Islam. Hampir seluruh wilayah Islam berada dalam genggaman penjajah Barat. Dalam internal umat Islam sendiri, pemahaman keagamaan mereka yang tidak antisipatif terhadap berbagai permasalahan membuat mereka semakin jauhtertinggal menghadapi hegemoni Barat. Umat Islam lebih banyak mengandalkan pemahaman ulama-ulama masa lalu daripada melakukan terobosan-terobosan baru untuk menjawab permasalahan-permasalahan yang mereka hadapi
Kontak umat Islam dengan penjajah Barat ternyata membawah hikmah juga bagi umat Islam. Adanya kontak tersebut menyadarkan umat Islam bahwa mereka mengalami kemunduran dibandingkan dengan Barat. Keadaan ini terbalik ketika umat Islam abad pertengahan menguasai ilmu dan peradaban dan Barat belajar banyak kepada dunia Islam.
Dalam lapangan politik, dunia Islam mulai bersentuhan dengan gagasan-gagasan pemikiran Barat. Sebelumnya, pada masa klasik dan pertengahan, umat Islam dapat dikatakan mendominasi percaturan politik internasional. Dinasti-dinasti Islam silih berganti naik ke puncak kekuasaan politik. Umat Isalm memegang kendali dunia ketika itu. Belum lagi munculnya dinasti-dinasti kecil yang ikut mewarnai politik pemerintahan pada era klasik dan pertengahan.
Namun keadaan berbalik pada masa modern. Kekalahan-kekalahan dinasti Usmani dari Barat membuat rasa percaya diri Barat semakin tinggi. Hal ini ditambah lagi dengan capaian ilmu pengetahuan dan teknologi barat, sehingga mereka mampu menjelajah berbagai belahan penjuru dunia yang pada gilirannya mereka dapat menguasai dunia Islam. Pada zaman modern , hamper seluruh dunia Islam mengalami penjajahan Barat. Di samping menjajah, Barat juga mengembangkan gagasan pemikiran dan kebudayaan mereka ke tengah-tengah masyarakat muslim.
Menghadapi penetrasi Barat ini, sebagian pemikir muslim ada yang bersikap apriori dan anti-Barat; ada juga yang menerima mentah-mentah segala yang datang dari Barat, serta ada pula yang berusaha mencari nilai-nilai positif dari peradaban dan pemikiran Barat, di samping membuang nilai-nilai yang bertentangan dengan Islam.”[5]
Beberapa pendekatan-pendekatan politik pada era kontemporer yang bisa kita buat acuan menjadi politikus yang profesional dalam perkembangan zaman yang semakin krisis akan keadilan :

1. Mengidentifikasi orang-orang yang berpengaruh dalam kedaulatan suatu saham.

2. Berpikir rasional dan kritis dalam suatu perdebatan (beragumen).
3. Meniadakan sikap dengki pada sesama politisi, dan bersaing secara sehat.
4. Saling bekerjasama jika menguntungkan satu sama lain.
5. Tidak mudah tersulut akan berita-berita yang belum pasti faktanya, karena itu akan merugikan dan mengancam jabatan yang akan kita gapai.
6. Mencari faktor-faktor (problem) dalam suatu instasi negara, dan mencari penyelesaian yang efektif.
7. Mematuhi undang-undang negara dalam menjalankan tugas (tidak sewenang-wenang)
8. Menjunjung tinggi keadilan dan norma agama, menetapkan hukum yang setimpal pada perbuatan yang dilakukan.
9. Sigap dalam membangun insfrastruktur yang menjadi keluan rakyat, dan semata-mata demi kemaslahatan masyarakat.
Semua acuan ini tak semudah yang kita kira, dan tidak bisa dikerjakan secara individual. Undang-undang yang telah kita anut pun tidak bisa kita seenaknya merubah tanpa ada persetujuan dari dewan-dewan yang berdaulat dalam instasi negara. Sebagai seorang rakyat pun juga harus membantu tugas para politisi, contoh: Mengurangi tingkat kelahiran (yang menjadi penyebab utama pengangguran [terbatasnya lowongan pekerjaan] dan peningkatan beban ekonomi negara), Membantu mengurangi tingkat kriminalitas (pungli, penculikan, kemaksiatan), dan melaporkan oknum-oknum yang kita curigai dalam peredaran narkoba yang semakin tinggi.
Dalam suatu politik pasti ada ancaman (bahaya) yang harus tetap kita waspadai, dan itulah intrik politik yang pernah dilalui oleh Ibn Khaldun, dan masih terjadi pada era kontemporer ini. Beberapa bahaya seorang politikus dalam berpolitik yang harus diwaspadai:
1. Menikam rekan satu instasi dari belakang demi perebutan jabatan.
2. Melakukan meeting rahasia demi kepintingan individual.
3. Penarikan dana negara yang berlebihan, dengan alasan pembangunan infrastruktuk (korupsi).
4. Dengan mudah tercemar nama baik kita dari sebuah perilaku yang menurut masyarakat tak pantas, karena dunia politik tak lepas dari sorotan media.
5. Perseteruan antar orang-orang dan departemen.
6. Pembentukan kelompok-kelompok kecil yang bertugas kritik satu sama lain yang berunsur menghina dengan satu tujuan yakni melenserkan jabatan.
Dengan semua poin-poin tersebut kita bisa waspadai dengan kecerdasan berpolitik, dan membuat benteng yang telah kita siapkan untuk menangkis semua itu dengan tidak mudah meberikan kepercayaan kepada orang yang kita tidak tau betul seluk-beliknya.[6]


Sumber: https://swatproject.org/

PERKEMBANGAN PERADABAN ISLAM MASA AMIR AL-MUKMINI UMAR BIN KHATAB

Keadaan Masyarakat

Ada banyak hal yang diubah pada masa pemerintahan Rasul khusunya dalam era periodisasi Islam, diantaranya yaitu pada bidang agama, sosial, politik, dan budaya.
a. Agama
Walaupun tidak berpengaruh besar, namun Yahudi dan Nasrani telah berkembang jauh sebelum Islam lahr di Mekkah. Kuatnya paganisme yang berkembang dalam keberagaman mereka. Hal ini merupakan penggabungan antara vetieisme, toteisme dan animisme. Namun ada pula yang menganut ajaran hanif dari nabi Ibrahim a.s.
Di sinilah Islam membawa dan mengarahkan bangsa Arab untuk memiliki keimanan yang proporsional kepada Allah SWT. Islam meluruskan keimanan dan aqidah mereka yang tidak bisa disamakan dengan semua jenismakhluk di dunia ini. Di sini peran vital Islam memberikan pemahaman tentang tauhid yang bukan hanya sekedar tebatas pada pengesaan Tuhan, tapi juga kemanusiaan yang kemudian diwujudkan dalam bentuk persamaan dan keadilan.
b. Sosial
Masyarakat Arab mempunyai sifat keras dan perilaku yang kasar, namun hal in tidak disesalkan karena ini dipengaruhi oleh faktor geografis negaranya yang bertanah tandus, berdebu, berpasir dan berbatu. Masyarakat Arab dikenal sebagai mayarakat Jahiliyah dikarenakan mereka memiliki moral yang rendah. Walau tidak semuanya, namun kepala sukulah yang memiliki muru’ah.
Nabi mengadopsi strategi yang dimiliki masyarakat Arab yang mana strategi tersebut terdiri dari lima pasukan inti, yaitu al-Muqaddam (pasukan pembawa bendera), al-Mamanah (sayap kanan), al-Maisarah (sayap kiri), al-saqaya (pasukan pembawa obat-obatan serta sukarelawan), dan al-Qalb (pasukan inti). Strategi ini digunakan Nabi SAW dalam melakukan peperangan melawan orang-orang kafir Quraisy.
Mereka juga memiliki fanatis terhadap suku yang sangat tinggi sehingga kesenjangan perekonomian pun nampak sangat mencolok. Selain itu juga, dikalangan mereka terdapat tradisi penguburan anak perempuan hidup-hidup pada beberapa suku. Mereka pun menganut tradisi perkawinan mut’ah, zawaq, istibda, khadn, mutadamidah, badal, syighar, maq, saby, hamba sahaya, antar saudara lelaki dan saudara wanitanya atau ayah dan putrinya, atau suami istri.
Walaupun begitu, tidak semua kondisi sosial Arab itu jelek, hanya saja ada beberapa yang perlu diperbaiki khususnya pada tatanan hidup sosialnya. Karena itu Islam datang kebiasaan mengubur anak perempuan hidup-hidup, tradisi perkawinan yang sama sekali tidak menghargai perempuan serta perlakuan yang tidak manusiawi terhadap budak-budak, Islam mengarahkan masyarakat Arab tentang kemanusiaan dan memberika world view yang luas tentang keberagamaan, kesamaan dan penghargaan terhadap gender. Konkritnya Islam mengajarkan agar memiliki istri maksimal empat, itupun jika sang suami dapat berbuat adil. Perlu diketahui bahwa dalam konteks sekarang sangat perlu tafsiran yang baru dan disesuaikan dengan situasi dan kondisi yang berkembang saat ini.

Recent Posts

Kerajaan Arab Saudi berdiri secara resminya pada 23 september 1932

Kerajaan Arab Saudi berdiri secara resminya pada 23 september 1932 dengan luas kekuasaaan terbentang dari teluk persia sampai ke Laut Merah, dengan raja pertamanya Abdul Aziz bin Abdul Rahman Al Sa’ud. Dengan menggabungkan daerah daerah kekuasaannya ia memberi nama wilayah kekuasaaannya dengan nama arab saudi.
Setelah minyak ditemukan di daerah arab saudi, Raja Abdul Aziz mengizinkan amerika serikat melakukan penelitian didaerah itu, penemuan minyak ini menjadikan penguasa saudi arabia kala itu menjadi elit kaya yang memiliki kekuatan hingga bisa dikatakan cadangan minyaklah yang memberikan kekayaan pada arab saudi kala itu bahkan hingga kini. Dengan penghasilan dari usaha perminyakan inilah raja saudi perlahan membangun jalan-jalan, gedung-gedung dan fasilitas di arab saudi.

Raja penguasa arab saudi.

1. Raja Abdul Aziz bin Abdul Rahman. Berkuasa sejak 23 september 1932 – 9 november 1953. Adalah raja pertama sekaligus pendiri kerajaan Arab Saudi.
2. Raja Sa’ud ibn Abd Aziz Al Su’ud. Menggantikan ayahnya berkuasa hingga 2 November 1964. Dilantik menjadi putera mahkota semenjak Mei 1933. Pada masanya didirikan Universitas Raja Saud di Riyadh
3. Raja Faisal bin Abdul Aziz bin Abdurrahman As Sa’ud. Menggantikan kakaknya sebagai raja berkuasa sejak 2 November 1964 sampai wafat pada 25 Maret 1975 , ia adalah raja yang dianggap penyelamat karena pada masanya Ia berusaha menyederhanakan kehidupan keluarga kerajaan.
4. Raja Khalid bin Abd Aziz Al Sa’ud. Menggantikan kakaknya berkuasa sejak 25 Maret 1975 sampai 13 Juni 1982. Kemajuan mencolok pada masanya adalah masuknya senjata modern sebagai pengganti senjata tradisional.
5. Raja Fahd bin Abd Aziz Al Saud. Menggantikan kakaknya berkuasa sejak 13 Juni 1982 sampai 1 Agustus 2005, ia sebelumnya sudah menjabat sebagai menteri pendidikan pada usia 30 tahun dilanjutkan menjadi menteri dalam negeri hingga menjadi wakil perdana menteri kedua.
6. Raja Adullah bin Abdul Aziz Al Sa’ud. Menggantikan kakaknya berkuasa sejak 1 Agustus 2005 sampai 23 Januari 2015. Pada masanya ia memiliki kebijakan damai dengan Israel dengan menjalin hubungan normal.
7. Raja Salman nin Abd aziz Al Sa’ud. Menggantikan kakaknya berkuasa sejak 23 Januari 2015 sampai sekarang. Seperti Raja terdahulu Ia juga pernah menjabat sebelumnya di struktur pemerintahan sebelumnya kerajaan Arab Saudi.
Beberapa konflik yang muncul dalam mendirikan Kerajaan Arab Saudi modern saat ini adalah berupa penaklukan wilayah untuk terwujudnya kerajaan, seperti perebutan Hassa pada 1914. Arab Saudi sebelum berdirinya, menjalin hubungan kerjasama dengan Inggris terlebihh dahulu dan kemudian menjalin hubungan kerjasama dengan Amerika Serikat yang diawali oleh penemuan minyak di daerah Arab Saudi. Terdapat juga pemberontakan anti-wahhabi yang dapat dipadamkan oleh kekuatan kerajaan Arab Saudi
Konflik yang muncul setelah berdirinya kerajaan Arab Saudi diantaranya ada konflik berkepanjangan antara Iran dan Arab Saudi selama kurang lebih 15 tahun yang didasarkan ada keinginan masing-masing negara menyebarkan pengaruh di negara arab lainnya.
Peta wilayah Arab Saudi.


Sumber: https://bengkelharga.com/

ARAB SAUDI

Sejarah Singkat Arab Saudi Modern

Arab saudi modern sebagaimana yang ada saat ini memulai perjalanan sejarahn melalui gerakan Muwahhidun. Gerakan ini pada dasarnya adalah gerakan dari aliran Hambali yang mana gerakan ini memiliki tujuan memurna kembali ajaran islam agar kembali seperti islam yang dibawa oleh nabi Muhammad saw.
Pendiri gerakan ini adalah muhammad ibn abd wahhab, dilahirkan pada tahun 1703M., putra dari seorang hakim di Uyainah, suatu desa di Arab tengah tepatnya di Nejd yang bisa dikatakan sebuah daerah terasaing yang sangan tandus dan hanya hanya dihuni badui pengenbala ternak. Gerakan ini kemudian disebut garakan wahhabi atau wahhabisme, yang mana gerakan ini yang kemudian menggerakan bangasa al sa’ud untuk melawan turki ustmani.
Sejarah awal al sa’ud tidak terlalu diketahui sebab ia awalnya hanyalah salah satu penguasa di jazirah arab, al sau’ud adalah penguasa dariyah, sebuah daerah yang bisa dikatakan milik al sa’ud sebab jalannya hukum adalah sesuai yang di kahendaki al sa’ud. Kemudiannya sa’ud dan abd wahhab mendirikan sebuah pemerintahan dengan pembagian al sa’ud dibagian pemerintahan dan abd wahhab dibagian keagamaan. untuk mendukung persekutuan mereka terjadilah perkawinan.
Persekutuan bagsa saud dan pengikut wahhabi dimulai dengan penyerangan mereka terhadap bentuk-bentuk penyimpangan yang menurut mereka mengarah kepada kemusyrikan, mereka menyerang karbala yang menjadi pusat sekte syiah dengan penyerangan yang membabi buta, mereka juga menyerang makkah dan madinah dengan menghancurkan banyak macam bentuk kemusyrikan. Penyerangan ini memiliki keuntungan yang besar untuk kedua kelompok yang terlibat, yaitu penyebaran paham wahhabi dan perluasan kekuasaan bansa sa’ud. Untuk memberantas gerakan ini turki ustmani mengirimkan utusan yakni muhammad ali pasha dari mesir untuk melawan mereka hingga kemudian derakan ini padam.
Setelah mengalami pasang surut perjalanan penaklukan dan kekalahan yang sangat pajang hingga meninggalnya su’ud dan digantikan oleh anaknya abd al aziz ibn su’ud. Perlu diketahui bahwa dalam mendirikan kekuasaannya bangsa saud memiliki hubungan diplomatik dengan orang Inggris, namun karena ikhwah sebutan untuk orang-orang yang mengikuti persekutuan wahhabi-saudi tidak menyukai hubungan diplomasi ini Ibn Sa’ud cenderung memakai politik muka dua.
Setelah mengalami perjalan panjang tepatnya pada 23 september 1932 kerajaan Arab Saudi benar-benar berdiri, dengan masyarakat diharapkan tunduk pada pemerintahan keagamaan Wahhabi, yang mana pengaruh wahhabi ada hampir dibanyak eleman yang memungkinkannya tersebar seperti dalam sistem pendidikan dan keagamaan.


Sumber: https://ngegas.com/