Menjadi Imigran, Kisah Seorang Seniwati

Menjadi Imigran, Kisah Seorang Seniwati

Menjadi Imigran, Kisah Seorang Seniwati

Menjadi Imigran, Kisah Seorang Seniwati

Menjadi Imigran, Kisah Seorang Seniwati

May adalah seorang perempuan muda, arround 30ies. Secara optik, dia memiliki keindahan oriental yang sangat memikat hati. Ia memliki sepasang mata yang tajam, dan ia selalu berpakaian etnik. Rambutnya coklat, kdang dia biarkan panjang mengurai kadang dia sanggul rambutnya. Keinginannya saat ini adalah untuk belajar bahasa jerman, ia ingin berbicara bahkan mungkin mimpi dalam bahasa Jerman. dari warna kulit dan postur wajah ia adalah representatif dari bangsa Turki (walaupun dia tidak memiliki rambut blode dan mata biru).

Pernikahannya membawanya ke Jerman, walaupun sebelumnya dia pernah menggelar beberapa kali exhibition di Jerman. Ia menikah dengan seorang warga negara Turki yang telah lama 14 tahun hidup di Amerika. Suaminya adalah salah satu yang disebut “anak Turki yang brilliant”. Banyak orang menyebutnya dengan “a tallented kid”, “a gifted kid”. Semasa muda ia dikirim ke Amerika, untuk belajar disana. Kemudian direncanakan untuk kembali ke tanah air dan melakukan penelitian, memberikan daya dan upaya untuk membangun kembali turki. tetapi ternyata ia menemukan sesuatu di Amerika dan ia tidak ingin kembali ke turki, kemudian untuk beberpaa tahun lamanya dia harus bekerja keras untuk mengembalikan grant sebesar 35.000 euro yang telah dikeluarkan oleh universitas Turki tersebut.

Tersebutlah beberapa bilangan tahun dihabiskannya di Amerika,hanya untuk mengembalikan freedom. tak terhitung berapa banyak pil yang sudah diminumnya hanya untuk menenangkan nervesnya. 24 jam kerja dan bekerja seperti kerbau tanpa mengenal batas waktu. akhirnya setelah ia mampu membeli freedomnya kemudian ia bekerja untuk sebuah perusahaan ternama, Mercedes. Dan kemudian sampailah ia di Jerman.Pertemuan di salah satu pameran seni May itu akhirnya membawa mereka pada perkenalan dan percintaan. Akhirnya mereka menikah di Jerman dan sampai saat ini (6 bulan) mereka tinggal di jerman.

Cerita imigran satu dan yang lainnya berbeda, contohnya May, yang sudah mempunyai pekerjaan yang nyaman di Turki sebagai seniwati, dan saat ini ia boleh bekerja di jerman tampaknya harus bersabar meniti karir dari awal. Karyanya sudah banyak dipamerkan dan terjual di berbagai pelosok dunia, sebut saja India, jerman dan beberapa negara lain yang tidak sempat ku catat. Tapi karya dan talentanya tidak dapat diremehkan. Ia adalah seniwati yang sudah mempunyai kredibilitas, karyanya juga diliput di koran dan media massa lainnya. Namun beginilah cerita seorang imigran yang mungkin tidak beda jauh dari yang lain, tanpa bahasa (bahasa Jerman) seseorang tidak mungkin bisa bekerja di negara ini.

Sebagai negara dunia pertama, jerman menyadari bahwa banyak orang yang ingin mempergunakan kesempatan untuk hidup dan bekerja di Jerman. Entah mungkin mereka berpikir bahwa negara Jerman menawarkan “kenyamanan”. Gelombang imigran yang semakin besar, mengkhawatirkan pihak jerman (sepertinya). Mereka saat ini mempunyai program integrasi yang mengharuskan tiap imigran untuk ikut kelas bahasa selama 600 jam dan kemudian setiap imigran juga harus lulus dari ujian bahasa level dasar. Program integrasi, yang diyakini menjadi kunci bagi imigran untuk menjadi bagian dari negara ini, kelihatannya memang menarik dan simpatik, tapi sebenarnya bagaimana program ini dilihat dari kaca mata May, seniwati Turki ini ?

Program integrasi memang indah tampaknya, tetapi secara politis program ini hanya menambahkan “what to do list” imigran, untuk membuat hidup mereka semakin “complicated”. seharusnya jika kita bersiap untuk bermigrasi ke suatu tempat maka seharusnya kita menguasai sedikit bahasanya. Dalam kasus May, ia sadar bahwa ia akan hidup di jerman, maka ia telah mengkursuskan dirinya untuk paling tidak berbicara sedikit bahasa jerman.

Program integrasi ini disodorkan untuknya karena suaminya bekerja untuk salah satu perusahaan Jerman. Dengan status kerja suaminya maka May juga mengantongi hak bekerja yang sama. Suaminya harus bekerja untuk rentang 2-3 tahun pada perusahaan yang sama, kemudian ia dapat mendapatkan passport Jerman. Dengan ketentuan yang sama May juga mendapatkan hak kerja yang sama. Tapi apakah artinya hak kerja tersebut ? “Nothing”……

May “dipaksa” untuk mengikuti program integrasi, walaupun ia menyatakan dengan jelas bahwa ia ingin menyeponsori dirinya sendiri untuk sekolah. bahwa ia datang ke jerman dengan penuh kesadaran, bukan sebagai individu yang ingin menjadi benalu bagi negara ini. Tapi peraturan ini tetap diberlakukan untuknya.

Setinggi karir apapun yang kita miliki, setinggi apapun sosial status yang pernah kita miliki, sebanyak apapun titel pendidikan yang kita miliki, … tetap bahasa harus dikuasai. Mungkin inilah bagian sedihnya, bahasa menjadi sesuatu yang menantang kehidupan imigran, tetapi ketika bahasa menjadi salah satu alasan politis mengapa kita tidak bisa leluasa bekerja, maka seorang imigran harus berperang “dobel”.

Sampai detik ini, ketika tulisan ini dihadirkan, May masih membangun harapannya untuk menemukan galeri untuk karyanya, dan ia juga bersama kami, sesama imigran, membangun mimpi dan berjuang untuk hidup.

Sumber : https://dunebuggyforsale.org/faraway-apk/

about author

admin

admin@worldbikelx.com

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.