Sumatera Utara

Sumatera Utara

Sumatera Utara

Sumatera Utara

Sumatera Utara

Provinsi Sumatera Utara mencatat awal yang baik dalam target menanggulangi kemiskinan di tahun 1993 dengan persentase penduduk miskin 12,3 persen. Angka ini di bawah Po Nasional (13,7 persen) maupun di bawah rata-rata tiap provinsi (14,7 persen). Pada tahun 2000, persentase penduduk miskin meningkat 13,0 persen. Meski demikian, angka tersebut masih di bawah Po Nasional maupun rata-rata tiap provinsi (20,5 persen). Perbaikan kualitas kebijakan dan pelaksanaan upaya penanggulangan kemiskinan dalam waktu lima tahun terakhir nampaknya belum mampu menurunkan persentase penduduk miskin di Sumatera Utara yang di tahun 2006 mencapai 14,3 persen.

Prestasi mengurangi kelaparan yang ditandai indikator kurang gizi di Provinsi ini dari tahun 1989 hingga tahun 2006 secara umum fluktuatif. Pada tahun 1989 balita kurang gizi di Sumatera Utara mencapai 37,3 persen sedikit lebih baik dari angka nasional (37,5 persen). Gizi buruk pada tahun 1992 menurun mencapai 35,4 persen, kemudian pada tahun 2000 menjadi 26,5 persen. Meski antara tahun 1992 hingga 2000 mengalami kemajuan namun ternyata justru lebih buruk dari angka nasional 24,7 persen (tahun 2000). Pada tahun 2006 persentase kurang gizi meningkat menjadi 28,7 persen. Angka 2006 lebih buruk sedikit dari angka nasional (28,1 persen) maupun angka rata-rata tiap provinsi (27,9 persen).

Kisah pencapaian berbeda terjadi pada prestasi mencapai pendidikan dasar untuk semua yang berkembang sangat baik. APM SD/MI pada tahun 1992 mencapai 89,9 persen, lebih tinggi dari APM nasional (88,7 persen) maupun dari rata-rata tiap provinsi (87,2 persen). Pada tahun 2000 APM SD/MI meningkat pesat menjadi 94,2 persen dan menurun sedikit pada tahun 2006 menjadi 94,0 persen dan angka ini berada di bawah APM SD/MI nasional (94,7 persen). Sementara itu untuk APM SLTP/MT, prestasi Sumatera Utara senantiasa lebih baik dari angka nasional maupun rata-rata tiap provinsi dengan pencapaian berturut-turut 56,4 (1992), 67,2 (2000), dan 73,1 (2006). Pencapaian tahun 2006 merupakan tertinggi ketiga di Indonesia.

Kesetaraan gender bidang pendidikan di Sumatera Utara ditandai oleh rasio APM P/L SD/MI dan rasio APM P/L SLTP/MT. Rasio APM P/L SD/MI antara tahun 1992 hingga 2006 cenderung stagnan dari 99,5 (1992), 99,5 (2000), dan 98,5 (2006). Sementara itu rasio APM P/L SLTP/MT antara tahun 1992 sampai 2006 terus meningkat dari 99,4 (1992) menjadi 102,3 (2000), 103,3 (2002), dan 101,3 (2006). Perkembangan pencapaian yang luar biasa ini –khususnya di tingkat SLTP/MT– menggambarkan keadilan gender yang meningkat sebagai dampak kebijakan yang memberikan peluang luas kepada perempuan untuk memperoleh fasilitas pendidikan. Rasio rata-rata upah per bulan antara perempuan dan laki-laki di Provinsi ini termasuk sedang yaitu 76,4 atau sedikit lebih baik dibandingkan dengan angka nasional 74,8, namun masih di bawah rata-rata tiap provinsi 80,3.

Pencapaian berikutnya adalah menurunkan angka kematian anak dengan indikator AKB dan AKBA. Keduanya memberikan gambaran prestasi yang baik. AKB antara tahun 1994 sampai 2005 berhasil menurun dari 42 persen antara tahun 1994-2003 menjadi 6 persen pada tahun 2005. Sementara itu prestasi AKBA terekam menurun dari 57 persen antara tahun 1994-2003 menjadi 32 persen pada tahun 2005. Baik AKB maupun AKBA tahun 2005 berada jauh lebih baik dari angka nasional (40) maupun rata-rata tiap provinsi (41). Keberhasilan menurunkan angka kematian merupakan dampak pembangunan kesehatan yang diprioritaskan pada penanganan anak-anak usia balita.

Sumatera Utara termasuk daerah dengan jumlah penyandang HIV/AIDS yang tinggi yaitu 188 pada tahun 2005. Pada tahun 2005 tercatat insiden malaria sebanyak 5.340 kejadian. Dengan demikian tantangan sangat berat masih menyertai Provinsi ini dalam memerangi HIV/AIDS, malaria dan penyakit menular lainnya.

Memastikan kelestarian lingkungan hidup merupakan tugas yang berat bagi Provinsi ini terutama disebabkan menurunnya kualitas hutan yang ditandai oleh menurunnya rasio luas daratan kawasan hutan dari 53,7 pada tahun 2003 menjadi 52,2 pada tahun 2005. Akses rumah tangga terhadap air minum non-perpipaan terlindungi antara tahun 1994 hingga 2006 meningkat dari 39,6 persen (1994) menjadi 50,2 (2002), dan meningkat lagi menjadi 55,2 persen (2006). Akses rumah tangga pada sanitasi layak antara tahun 1992 sampai 2006 juga senantiasa membaik dari 41,1 persen (1992) meningkat menjadi 72,7 persen (2000) dan membaik lagi menjadi 76,7 persen (2006). Pencapaian 2006 lebih baik dari angka nasional (69,3 persen) maupun rata-rata tiap provinsi (66,8 persen).

Pengangguran usia muda (rentang 15-24 tahun) di Provinsi ini termasuk tinggi meskipun sedikit lebih baik dari angka nasional. Pengangguran usia muda kelompok laki-laki per Februari 2007 mencapai 52,4 persen, kelompok perempuan mencapai 64,2 persen, dan secara akumulatif mencapai 57,1 persen atau terdapat penganggur sebanyak 1,53 juta jiwa.

Sumber : https://obatwasirambeien.id/last-day-on-earth-apk/

about author

admin

admin@worldbikelx.com

Lorem ipsum dolor sit amet, consectetur adipiscing elit, sed do eiusmod tempor incididunt ut labore et dolore magna aliqua. Ut enim ad minim veniam, quis nostrud exercitation ullamco laboris nisi ut aliquip ex ea commodo consequat.