Emosi Cerdas Kunci Sukses Belajar

    HomeUmum Emosi Cerdas Kunci Sukses Belajar

Emosi Cerdas Kunci Sukses Belajar

admin

Emosi Cerdas Kunci Sukses Belajar

Sebuah kejadian di sekolah, saat anak-anak tengah lewat kewajiban untuk ikuti ujian akhir sekolah. Sebelumnya, mereka sudah mengusahakan belajar berbulan-bulan di bawah bimbingan guru, dan mengerjakan beratus-ratus soal-soal latihan. Padahari pelaksanaan ujian, mereka merasa mantap dengan persiapan yang sudah dijalankan selama ini.

Kesiapan mental mereka ternyata merasa goyah setelah merasa membaca soal-soal ujian yang dibuat oleh sekolah lain. Ternyata tipe soal serta materi yang ditanyakan di sana sangat jauh tidak serupa dengan apa yang selama ini diajarkan oleh guru mereka! Tentu saja, anak-anak pun kelabakan menghadapinya.

Seorang anak segera mengalami down, kejatuhan mental karenanya. Timbul perasaan kecewa yang sangat berat karena ternyata persiapan matang yang sudah dijalankan selama ini salah dan tak berguna. Tiba-tiba kepalanya merasa pusing, wajahnya tegang, dan hafalan-hafalan rumus yang mula-mula sudah lekat di kepala pun tiba-tiba hilang tak bersisa. Ia menghabiskan sementara dengan mencoret-coret lembar jawaban, terus-menerus
mendesah dan mengeluh jengkel, sambil melirik kanan kiri, menyaksikan reaksi teman di kanan kirinya, menghendaki ada teman yang serupa bingungnya dengan dirinya. Akhirnya iapun menyelesaikan ujiannya dengan hampir separuh soal tak terisi.

Anak yang lain bereaksi dengan coba meredam keterkejutannya, menyaksikan betapa sukar soal yang dihadapinya. Ia menarik nafas panjang, menegakkan punggungnya, dan mengusahakan menenangkan hatinya. Sempat timbul keraguan, bisakah ia mengerjakannya?
Namun hati kecilnya cepat menepis keraguan itu. Ia mengusahakan memastikan dirinya sendiri, bahwa ia sudah mengusahakan sebaik kemungkinan untuk belajar. Diingatnya pesan ibunya, bahwa Allah menilai berdasarkan seberapa besar bisnis seseorang, bukan seberapa besar hasilnya. Maka ia pun merasa coba membaca dengan hati-hati soal demi soal dengan tenang, dan coba menjawab cuman kemampuannya. Ternyata, ia mampu menyelesaikan semua soal yang ada, kendati banyak yang diisinya penuh keraguan, tapi ia tak membiarkannya kosong tak berisi, karena bukankah coba mengisinya masih lebih baik dari pada tidak diisi serupa sekali?
Dalam kisah di atas, anak tengah dihadapkan kepada keadaan yang menegangkan dan menyebabkan kekecewaan serta kekhawatiran yang mencekam. Dan ke dua anak sudah tunjukkan dua reaksi emosi yang tidak serupa dalam menghadapinya. Anak pertama tak mampu mengatasi stress yang dialaminya, supaya ia tak mampu mengontrol kepandaian otak rasionalnya. Sebaliknya anak ke dua mampu menjaga kestabilan perasaan dan emosinya dalam hadapi ketegangan tersebut, supaya sukses menguasai otak rasionalnya. Ia sudah memiliki emosi yang cerdas, yang kelanjutannya menyelamatkan nasibnya dalam ujian tersebut.

Baca Juga :