Guru Wajib Sambut Ortu Murid

    HomePendidikan Guru Wajib Sambut Ortu Murid
Guru Wajib Sambut Ortu Murid

Guru Wajib Sambut Ortu Murid

admin

Guru Wajib Sambut Ortu Murid

Guru Wajib Sambut Ortu Murid

Guru Wajib Sambut Ortu Murid

JAKARTA – Masa libur sekolah telah usai. Kini waktunya menyambut tahun ajaran baru. Senin (18/7) menjadi hari pertama masuk sekolah. Menteri Pendidikan dan Kebudayaan (Mendikbud) Anies Baswedan menganjurkan orang tua (ortu) murid untuk mengantar anak di hari pertama sekolah.

Anies mengatakan, mengantar anak ke sekolah yang dimaksud bukanlah memastikan anak sampai ke tujuan. Lebih dari itu, mengantar anak di hari pertama sekolah menjadi ajang orang tua dan guru menjalin komunikasi.

”Guru sudah di-briefing untuk menyambut orang tua murid di sekolah,”

ujar Anies dalam Kampanye Antar Anak ke Sekolah di kawasan Car Free Day (CFD) Jakarta kmarin (17/7).

Menurut dia, pendidikan adalah pola kolaborasi. Yang terjalin antara orang tua dan guru. Nah, hari pertama sekolah menjadi momentum yang tepat untuk memulai komunikasi dua pihak. Kalau interaksi di sekolah bisa terjalin, banyak hal positif yang bisa dipetik.

Anies mengakui, di sejumlah sekolah masih terjadi banyak pungutan liar (pungli).

Meski dilarang, praktik pungli masih sering dilakukan oleh pihak sekolah. Dengan colong-colongan. Misalnya, untuk mengambil rapor atau mendaftarkan anak ke sekolah, orang tua siswa mesti membayar Rp 10 ribu. Padahal, seharusnya gratis.

Nah, orang tua yang dimintai pungutan tersebut seringkali merasa enggan melapor. Sebab, pungutan yang diminta tidak seberapa. Bila terjadi pungutan di sekolah, Anies mengimbau pada orang tua siswa untuk melapor. Bisa dengan mengirim pesan singkat ke 0811976929 atau melalui website laporpungli.kemdikbud.go.id.

Di Kemendikbud, pegawai yang memiliki anak dianjurkan untuk mengantarkan anak ke sekolah lebih dulu. ”Kami tidak pakai kata terlambat untuk pegawai yang mengantar anak ke sekolah,” kata Anies.

Mengantar anak ke sekolah juga berguna untuk menumbuhkan potensi anak.

Selain itu juga mengurangi potensi penyimpangan. Artinya, bila guru dan orang tua berinteraksi, mereka akan lebih bisa mendorong perkembangan anak ke arah yang positif. Guru bisa membocorkan potensi anak di sekolah, kemudian orang tua di rumah dapat mengembangkan potensi tersebut.

”Kalau di sekolah anak sukanya menggambar, orang tua diberi tahu untuk membelikan anak kertas gambar dan pensil warna. Sehingga, mendukung perkembangan potensi anak,” papar Anies.

Di lain sisi, komunikasi orang tua dan guru juga dapat memecahkan masalah dengan cepat dan tepat. Namun, yang selama ini terjadi adaalah orang tua dan guru tidak berinteraksi. Bahkan, kalaupun ada masalah, penyelesaiannya pun dilakukan masing-masing pihak. ”Lalu muncul konflik antara orang tua dan guru,” terangnya.

 

Sumber :

https://balikpapanstore.id/teks-prosedur/