Jangan Memaksakan Kehendakmu, Amirul Mukminin!

    HomePendidikan Jangan Memaksakan Kehendakmu, Amirul Mukminin!

Jangan Memaksakan Kehendakmu, Amirul Mukminin!

admin

Jangan Memaksakan Kehendakmu, Amirul Mukminin!

Ketika jaman pemerintahan khalifah Umar bin Khaththab r.a, Masjid Nabawi senantiasa disesakkan oleh jemaah kaum muslimin yang tetap bertambah. Kemudian Umar r.a punya niat untuk memperluas masjid berikut supaya mampu menampung kaum muslimin yang hendak beribadah di dalamnya.

Semua rumah di sekitar masjid udah dibelinya, jikalau rumah Abbas bin Abdul Muthalib r.a atau Abul Fadhal (ayahnya Fadhal, putra sulungnya). Amirul Mukminin pun menemuinya dan berkata, “Wahai Abul Fadhal, seperti yang kaulihat bahwa masjid udah tidak memadai menampung jemaah yang akan shalat di dalamnya. Aku udah memerintahkan untuk membeli tanah dan bangunan yang ada di sekitarnya untuk tambah besar bangunan masjid, jikalau rumahmu dan kamar-kamar Ummahatui Mu’minin (para istri nabi). Kami tidak barangkali membeli dan membongkar kamar-kamar Ummahatul Mu’minin. Oleh karena itu, aku menghendaki kepadamu supaya kau mau menjajakan rumahmu berapa pun harga yang kau mau dari Baitul Mal.”

Abbas r.a. menjawab singkat, “Tidak mau!”

Bukan Umar r.a namanya jikalau ia patah semangat. Ia pun menawarkan tiga pilihan bagi Abbas r.a,”Juallah rumahmu! Kau boleh menghendaki harga berapa pun dari Baitul Mal, aku akan membangunkanmu sebuah bangunan lain dari Baitul Mal, atau kamu memberikan rumahmu sebagai harta sedekah kepada kaum muslimin!”

Abbas r.a senantiasa terhadap pendiriannya, “Aku tidak mau menerima seluruh itu!”

Melihat Abbas r.a yang keras kepala, Umar r.a menghendaki supaya Abbas r.a menunjuk orang yang mampu jadi penengah masalah mereka. Abbas r.a menunjuk Ubay bin Ka’ab r.a. yang sesudah itu disetujui oleh Amirul Mukminin, Umar r.a.

Mereka berdua pun menemui Ubay bin Ka’ab r.a. Umar r.a menghendaki bahwa caranya ini mampu sebabkan Abbas r.a merelakan rumahnya untuk disedekahkan. Lagi pula bukankah ia di dalam posisi yang benar karena ingin membangun masjid untuk keperluan kaum muslimin beribadah kepada Rabb-Nya? Umar r.a berkeyakinan bahwa Ubay r.a akan mendukung dirinya.

Setelah Ubay bin Ka’ab r.a mendengar masalah dari sudut pandang ke dua belah pihak, ia mengisahkan, “Aku mendengar Rasulullah saw. bersabda, ‘Allah SWT dulu mewahyukan kepada Nabi Daud a.s., ‘Bangunlah untuk-Ku sebuoh rumah area orang-orang menyebut nama-Ku di sana.’ Nabi Daud a.s. berencana untuk membangunnya di Baitul Magdis. Dalam perencanaannya itu, lokasi pembangunan berkenaan sebuah rumah seorang Bani Israel. Nabi Daud menawarkan kepada orang itu untuk menjajakan rumahnya, namun ia menampik ….”

Sampai di sini Umar r.a. merasa di atas angin karena ia percaya dirinyalah yang benar, sebagaimana posisi Nabi Daud a.s selagi itu. Kemudian Ubay r.a melanjutkan, “Terpikir oleh Nabi Daud a.s. untuk mengambilnya dengan paksa. Namun, sesudah itu Allah SWT mewahyukan kepadanya, ‘Hai Daud! Aku menyuruhmu membangun untuk-Ku area orang menyebut nama-Ku, sedang pemaksaan itu bukan sifat-Ku. Karena itu kau tidak usah membangunnya …”

Umar r.a kaget mendengar cerita itu. Belum dulu sama sekali ia mendengar kisah berikut dari Rasulullah saw. Sebelum Ubay r.a selesaikan kisahnya, Umar r.a. langsung mencengkeram kerah baju Ubay r.a dan menyeretnya ke masjid sambil menghardik, “Aku mengharapkanmu untuk mendukungku, namun kau tambah menyudutkanku! Kau harus menunjukkan kebenaran kisahmu tadi!”

Umar r.a membawanya ke tengah-tengah majelis para sahabat, di antaranya ada Abu Dzar r.a. Umar r.a menanyakan ke majelis sahabat, “Saya menghendaki atas nama Allah, adakah di antara kalian yang dulu mendengar Rasulullah saw. berbicara berkenaan Nabi Daud a.s yang diperintahkan oleh Allah SWT untuk mendirikan masjid supaya disebut nama-Nya, sesudah itu ia memilih Baitul Maqdis?”

Abu Dzar r.a. berkata, “Ya, aku dulu mendengarnya!” Begitu pula yang lain berbicara sama, “Ya, aku juga mendengarnya!”

Jawaban para teman akrab sebabkan Umar r.a tersadar, sesudah itu berbicara kepada Abbas r.a, “Pergilah! Aku tidak akan menuntut rumahmu lagi!”

Melihat Umar r.a yang udah melunak dan jelas kesalahannya, Abbas r.a berkata, “Baiklah, jikalau kau udah merubah sikapmu, aku akan serahkan rumahku untuk disedekahkan bagi keperluan kaum muslimin. Silakan perluas masjid mereka. Akan tetapi, jikalau kau mengambilnya dengan tekanan dan pemaksaan, aku tidak akan dulu merelakannya!”

Secara tidak langsung, Abbas r.a udah mengoreksi sikap Umar r.a yang bersikap sewenang-wenang merampas hak rakyatnya supaya mencukupi keinginannya dengan langkah paksa walaupun tujuannya untuk kemaslahatan umat.

Namun, dikala Abbas r.a memandang Umar r.a. mampu menghormati hak rakyatnya untuk berpendapat dan mempertahankan miliknya, barulah ia merelakan rumahnya untuk disedekahkan.

Sumber : Situs Biografi

Baca Juga :