Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia

    HomePendidikan Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia

Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia

admin

Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia

Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia
Bangsa Indonesia adalah kesatuan berasal dari bangsa yang majemuk, bermakna bangsa Indonesia terdiri atas beragam suku bangsa bersama dengan beragam kebudayaan. Menurut hasil penelitian Van Vollenhoven, aneka ragam suku bangsa yang bermukim di wilayah Indonesia diklasifikasikan berdasarkan proses lingkaran-lingkaran hukum rutinitas yang meliputi 19 daerah, sebagai berikut;

Aceh
Gayo – Alas dan Batak, Nias, dan Batu
Minangkabau dan Mentawai
Sumatra Selatan dan Enggano
Melayu
Bangka dan Belitung
Kalimantan
Sangir Talaud
Gorontalo
1Sulawesi Selatan
Toraja
Ternate
Ambon-Maluku dan Kepulauan Barat Daya
Irian
Timor
Bali dan Lombok
Jawa Tengah dan Jawa Timur
Surakarta dan Jogjakarta
Jawa Barat

Masing-masing group yang terangkum di dalam lingkaran hukum rutinitas itu menurut Van Vollenhoven mempunyai pola kebudayaan yang khas. Dengan demikianlah tersedia beberapa suku bangsa yang mempunyai kesamaan kebudayaan, agar diakui menjadi satu kelompok, kendati secara geografis mereka terpisah. Misalnya; di dalam klasifikasi itu kebudayaan Gayo-Alas, Batak, Nias, & Batu diakui sebagai satu group yang sama.

Demikian juga Ambon, Maluku, & Kepulauan Barat Daya diakui 1 kelompok. Pengelompokan beberapa suku bangsa yang diakui mempunyai pola kebudayaan yang serupa itu, memperlihatkan adanya pertalian sosial yang terlalu erat antara group penduduk yang tidak sama suku bangsa di dalam jangka saat yang terlalu lama secara tetap menerus, agar membentuk sifat pola kebudayaan yang sama.
Adanya pengelompokan suku bangsa itu memperlihatkan bahwa antara suku bangsa yang satu & lainnya telah berhubungan pertalian sosial yang erat, agar berlangsung proses asimilasi yang menghilangkan perbedaan unsur-unsur kebudayaan yang ada. Hubungan antara suku bangsa yang tercermin di dalam wujud pertalian kebudayaan lokal mampu ditemukan di dalam wujud unsur-unsur kebudayaan tersebut ini;

1. Bahasa
Hubungan antara kebudayaan lokal, tercermin di dalam wujud persebaran bahasa daerah, sebagai wujud persebaran unsur kebudayaan lokal. Hal itu sebagai pengaruh pertalian sosial antara group penduduk yang tidak sama kebudayaan. Misal: penduduk suku bangsa Jawa yang tinggal berbatasan bersama dengan wilayah suku bangsa Sunda (Jawa Barat) antara lain Cilacap & Brebes, mempunyai ragam bahasa yang merupakan perpaduan antara bahasa Jawa & Sunda.

Demikian halnya penduduk suku bangsa Jawa yang berbatasan bersama dengan wilayah Madura, mempunyai ragam bahasa yang memperlihatkan perpaduan antara bahasa Jawa & Madura. Perpaduan bahasa tersebut tercermin di dalam wujud logat / dialek. Dialek bahasa Jawa penduduk Brebes tidak sama bersama dengan dialek bahasa Jawa penduduk Semarang, tidak sama bersama dengan penduduk Solo, & tidak sama pula bersama dengan penduduk Surabaya, kendati mereka sama-sama memanfaatkan bahasa Jawa.

Di masa kehidupan sekarang ini, lebih-lebih di kalangan remaja, pemanfaatan dialek bahasa Betawi layaknya gue (saya), lu (kamu), telah (sudah), bantuin dong (tolong dibantu), & sebagainya menyebar hampir ke seluruh wilayah di Indonesia, lebih-lebih di lingkungan remaja perkotaan. Hal tersebut mengenai erat bersama dengan proses urbanisasi yang menjadikan ibukota sebagai obyek utama kaum urban.

2. Sistem Kesenian
Hubungan yang berhubungan antarkebudayaan lokal mampu terlihat terhadap unsur kesenian. Jalinan pertalian sosial antar suku bangsa, biasa berlangsung lewat kesibukan ekspansi, migrasi maupun perdagangan. Misalnya; pertumbuhan seni pertunjukan wayang, tidak cuma terbatas di lingkungan penduduk Jawa saja, melainkan mampu dijumpai terhadap penduduk Sunda & Bali kendati tidak sama jenisnya. Demikian halnya bersama dengan tari topeng. Perkembangan tari topeng mampu dijumpai di dalam kebudayaan penduduk Betawi, Sunda, Jawa Tengah, Jawa Timur, & Bali.

3. Sistem Teknologi
Meningkatnya peradaban suatu suku bangsa sekaligus menandai proses pergantian kebudayaan lokal. Pola kehidupan penduduk yang dinilai lebih maju berpengaruh terhadap pola kehidupan penduduk yang tingkat peradabannya masih sederhana. Melalui proses migrasi maupun pertalian perdagangan, telah berlangsung saling mempengaruhi terhadap kebudayaan lokal. Misalnya; kehidupan suku terasing yang hidup di pedalaman kelanjutannya akan mampu menyesuaikan bersama dengan pola kehidupan penduduk luar yang lebih modern, sehabis mereka membuka diri menjalin pertalian sosial bersama dengan penduduk luar. Di bidang teknologi, penyesuaian tersebut mampu berupa; alat tempat tinggal tangga & pakaian.

Demikianlah ulasan tentang Hubungan Antar Budaya Lokal di Indonesia, yang terhadap peluang ini mampu dibahas disini. Semoga ulasan di atas bermanfaat, peranan menaikkan wawasan anda para pengunjung ataupun pembaca. Cukup sekian & hingga jumpa!

Baca Juga :