Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah: dari Penerjemah hingga Pencak Silat

    HomePendidikan Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah: dari Penerjemah hingga Pencak Silat
Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah dari Penerjemah hingga Pencak Silat

Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah: dari Penerjemah hingga Pencak Silat

admin

Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah: dari Penerjemah hingga Pencak Silat

Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah dari Penerjemah hingga Pencak Silat

Mahasiswa Indonesia di Festival Janadriyah dari Penerjemah hingga Pencak Silat

Festival Janadriyah di Arab Saudi tidak hanya melibatkan siswa Indonesia sebagai duta budaya, m

elainkan juga mahasiswa Indonesia yang kuliah di Arab Saudi. Lebih dari 30 mahasiswa terlibat di Festival Janadriyah ke-33 sebagai relawan atau volunteer. Mereka berperan sebagai penerjemah, mengenalkan budaya Indonesia, dan mengenalkan budaya Indonesia melalui penampilan seni bela diri pencak silat.

Ketua Umum Persatuan Pelajar dan Mahasiswa Indonesia (PPMI) Arab Saudi, Biyan, mahasiswa Indonesia yang sedang belajar di Arab Saudi berperan sebagai penerjemah atau penyambung komunikasi seputar kebudayaan Tanah Air sekaligus sebagai penjaga stan atau gerai di Paviliun Indonesia saat Festival Janadriyah ke-33.

“Sebanyak 17 orang di antaranya adalah mahasiswa Universitas Islam Madinah yang menampilkan seni bela diri pencak silat di atas panggung utama. Selain itu, beberapa mahasiswa mendampingi dan membimbing beberapa tamu dan seniman dari Tanah Air untuk melaksanakan umrah ke Mekkah dan berkeliling Kota Riyadh,” ujar Biyan di Riyadh, Arab Saudi, Jumat (4/1/2019).

Indonesia hadir di Festival Janadriyah ke-33 di Arab Saudi sebagai tamu kehormatan atau guest of honour. Penampilan seni bela diri pencak silat dari mahasiswa Indonesia di Madinah berlangsung pada 29 Desember 2018 hingga 5 Januari 2019. Setiap pertunjukan berlangsung sekitar 15 menit dengan menampilkan enam jurus, yaitu Jurus Regu Wiraloka, Jurus Katak dari Tapak Suci, Jurus Harimau Minang, Silat Ganda Tarung untuk lomba, Jurus Ganda Tarung untuk koreografi film, dan Silat Praktis.

Ketua Tapak Suci Madinah yang juga pengurus PPMI Madinah, Abdullathif Ridho menuturkan,

para mahasiswa yang menampilkan pencak silat di Festival Janadriyah tergabung dalam sebuah komunitas di kampus. “Secara perguruan kita menginduk ke Tapak Suci Muhammadiyah di Yogyakarta. Dan di sini kita berpayung di bawah Pimpinan Cabang Istimewa Muhammadiyah (PCIM) Arab Saudi,” tuturnya.

Sebagai relawan di Festival Janadriyah, Abdullathif dan kawan-kawan ingin mengenalkan budaya Indonesia dan menyampaikan pesan persatuan. “Indonesia bukan bangsa biasa, tapi bangsa yang luar biasa. Indonesia dan Saudi, semangat Saunesia bersaudara. Maka hubungan baik ini jangan dirusak oleh hal-hal remeh-temeh. Mari kita jaga sama-sama,” katanya.

Atase Pendidikan dan Kebudayaan (Atdikbud) Kedutaan Besar Republik Indonesia (KBRI) Riyadh,

Ahmad Ubaedillah mengatakan, kehadiran mahasiswa Indonesia sebagai relawan tidak mendapatkan honor sama sekali. Mereka hadir suka rela dan membantu kegiatan di Paviliun Indonesia selama Festival Janadriyah. “Mereka luar biasa membantu kita, bahasa Arabnya bagus, jadi sangat membantu kawan-kawan delegasi dari Kemendikbud maupun lembaga lain,” ujarnya. KBRI Riyadh pun tidak menetapkan kriteria khusus untuk relawan mahasiswa di Festival Janadriyah. “Siapapun, yang penting bisa berhadapan dengan pengunjung dan membantu di bahasa Arab. Kebetulan banyak buku Indonesia yang dipamerkan, dan belum diterjemahkan ke bahasa Araba,” katanya.

Melihat kemampuan mahasiswa Indonesia berbahasa Arab, Atdikbud KBRI Riyadh akan mencoba bekerja sama dengan mereka dalam penerjemahan buku, dari bahasa Indonesia ke bahasa Arab. Apalagi, selama penyelenggaraan Festival Janadriyah, banyak masyarakat Arab yang tertarik dengan buku-buku tentang Indonesia. Sayang, buku-buku tersebut belum diterjemahkan ke dalam bahasa Arab. “Antisipasi ke depan untuk event-event mendatang seperti pameran kebudayaan, pameran pendidikan atau pameran buku di Saudi, kita ingin menampilkan buku-buku yang sudah diterjemahkan ke dalam bahasa Arab, terutama buku-buku keluarga, balita, remaja, dan buku-buku sejarah untuk masyarakat umum dan anak2-anak. Kita mau melibatkan PPMI Arab Saudi untuk menerjemahkan karya-karya yang masih dalam bahasa Indonesia dan bahasa Inggris ke dalam bahasa Arab,” katanya.

 

Sumber :

https://www.okeynotes.com/blogs/212521/21237/sejarah-teks-proklamasi