SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

    HomePendidikan SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI
SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

admin

SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

SINOPSIS BUKU SANG PEMIMPI

SANG PEMIMPI

 

Hari yang mencekam menyelimuti arai

jimbron, invalid dengan disela petir terdengar dengan jelas suara pantopel yang semakin mendekat hanya terhalang jarak dan papan lagi suara pantopel itu mendekat.

Yang lebih parah lagi invalid dia muntah-muntah.

Ari menerawang dari sela-sela celah menyimpan ikan.

 

Mereka mengendap-endap manjauhi suara sepatu tersebut

pada saat arai menengok 20 meter kebelakang terlihat di teronggok reyot dipabrik cincau, dan daun-daun cinta berhamburan, lalu menyelinap melompati para-para alung dan membaur diantara pembeli diantara pembeli tahu.

Aku melirik kejam, pengen rasanya aku mencongkel matanya kata si Arai.

Arai selalu megeluarkan gejala yang bisa menandakan kalau dia sedang ketakutan tubuhnya menggigil, giginya gemeletuk dan nafasnya mengendus satu-satu.

Selain itu pak Mustar menyandang semua julukan seram yang berhubungan dengan tata cara lama yang keras dalam penegakan disiplin. Selain guru biologi dia juga darwinian tulen karena itu dia sama sekali tidak toleran.

Lebih dari gelar B.A itu adalah perguruan traditional silat yang ditakuti, dengan kebiasannya menjilat telunjuknya dan menggosok telunjuk itu ke embel-embel namanya yang bertengger didadanya. Nafas Arai tertahan ketika pak mustar membalikan tubuhnya.

 

Pak Mustar adalah

seorang yang penting banget sebenarnya dengan kerja kerasnya pak mustar bisa mendirikan sekolah SMA dibelitong kemudian pak Mustarlah yang telah menyelamatkan keterpurukan yang hampir melanda belitong.

Sebelum pak Mustar mendirikan sekolah itu Arai, Ical harus menempuh jarak 120 km jauhnya untuk ke sekolah, dan memang benar SMA itu bukan SMA yang biasa, SMA itu adalah SMA yang terfaforit disana,

Pak Mustar adalah sosok yang baik, sopan, santun dan memadu dengan masyarakat banyak. Tapi lain hal dengan sekarang pak Mustar menjadi manusia jelmaan robot yang keras bila dikatakan manusia bertangan besi setelah dia tau anaknya yang justru tidak diterima di sekolah SMA yang dia bangun itu, padahal dengan kerja kerasnya pak Mustar meembangun sekolah itu.

Pak Mustar tidak dapat lagi membanggakan sekolah dan tidak dapat lagi membanggakan anaknya, semua anakpun senang karena mereka diterima kecuali anak pak Mustar. Dia tidak diterima karena NEM ujian nasionalnya kurang dari 0,25 dari batas minimal untuk nilai NEM yang bisa diterima adalah 42, sedangkan anak pak mustar Cuma 41,75.

 

Setelah empat puluh tahun akhirnya bumi pertiwi belitong timur negeri

yang kaya akan timah itu memiliki SMA Negeri, maka dan itu orang melayu, tionghoa, sawang dan pulau berkerudung ingin menghirup candu ilmu di SMA itu.

Drs. Julian Ichsan balia adalah seorang kepala sekolah dimana tempat arai, ical sekolah.

Ada yang menyumbangkan kapur tulis, papan tulis, jam dinding, pagar, bahkan masih ada salah satu anak yang NEM nya 28 tap dia tidak tau ibukota provinsinya sendiri sumsel mendapat kursi di SMA itu.

Arai adalah lelaki pada biasanya dia bertengkar dengan tukang parkir sepeda hanya gara-gara uang dua ratus perak.

Arai adalah anak yatim karena waktu Arai berumur 7 atau saat kelas satu SD, ibu Arai meninggal dunia karena melahirkan anak yang kedua, tapi bukan kebahagiaan malah anak dan ibunya meninggal, ternyata kesedihan belum mau beranjak dan hidup Arai menginjak kelas tiga SD Arai harus lagi mengeluarkan air mata karena harus ditinggalkan sang ayah yang sangat ia cintai.

 

Bagaimana tidak semenjak ibunya melahirkan dan langsung meninggal arai hanya hidup dengan ayahnya, kini arai harus merasa kehilangan dua orang yang dicintainya sekaligus ayah dan ibunya.

 

Dalam perjalanan kerumah ikal

ikal tidak banyak bicara karena pilu kepada arai, sesampai dirumah ikal arai menangis dan dibasuh nya airmata dengan tangan bajunya yang dekil dan kumel ayah ikal mencuri-curi pandang kepada kepada arai dan ikal, sebari duduk diatas kopra.

Tak lama kemudian arai mengeluarkan suatu benda yang belum pernah ikal lihat sebelumnya, bahkan asing banget .

Benda itu menyerupai helikopter dan benda itu sangatlah sederhana karena itu adalah benda permainan anak kampung.

Setiap sehabis maghrib ikal selalu mengajak arai membaca kitab suci al-quran dibawah lampu minyak tanah yang kurang terang.

Jika ikal sedang mengaji arai malah turun dari tangga rumah untuk berlari menembus kebun ilalang menuju lapangan diujung kampung ditempat rumah ikal.

Waktu itu matahari yang menyinari rumahku begitu gerah, dan kebun kelapa sawit yang seakan membelah sinar matahari sambil duduk diatas talang arai dan ikal memainkan mainan traditional yang terbuat dari kaleng susu bendera dan kaleng botan. Arai diatas talang sedangkan ikal di kandang ayam. Dan mereka bertemu dengan ibu-ibu yang berbadan gemuk, yang itu adalah cek maryam yang meminta-minta beras dengan karung butut dan kedua anaknya meminta belas kasihan kepada ibunya ikal. Dengan rasa kasihan.

Waktu itu masih pagi dimana tempat foto copy “Kang Emod” masih tutup itu adalah tempat kami bekerja. Dengan mengumpulkan bahan US arai tidak mengerti, terigu, minyak dan tidak lama kemudian ibu mertua deborah menampar-namparkan piring ketempat makanan kucing, mereka hanya diam dan bersifat sabar mendengar semua yang di lakukan mertua deborah.

Baca Juga :