Melatih Keberanian Mengajar

    HomePendidikan Melatih Keberanian Mengajar
Melatih Keberanian Mengajar

Melatih Keberanian Mengajar

admin

Melatih Keberanian Mengajar

Melatih Keberanian Mengajar

Melatih Keberanian Mengajar

Definisi klasik menyatakan bahwa mengajar diartikan sebagai penyampaian sejumlah pengetahuan karena pandangan yang seperti ini, maka guru dipandang sebagai sumber pengetahuan dan siswa dianggap tidak mengerti apa – apa. Pengertian ini sejalan dengan pandangan Jerome S. Brunner yang berpendapat bahwa mengajar adalah menyajikan ide, problem atau pengetahuan dalam bentuk yang sederhana sehingga dapat dipahami oleh siswa. Sementara definisi modern menolak Pandangan klasik seperti diatas, oleh sebab itu pandangan tersebut kini mulai ditinggalkan. Orang mulai beralih ke pandangan bahwa mengajar tidaklah sekedar menyampaikan ilmu pengetahuan, melainkan berusaha membuat suatu situasi lingkungan yang memungkinkan siswa untuk belajar. Para ahli pendidikan yang sejalan dengan pendapat Nasution, yang merumuskan bahwa mengajar adalah suatu aktivitas mengorganisasi atau mengatur lingkungan sebaik – baiknya dan menghubungkan dengan anak, sehingga terjadilah proses belajar mengajar.

Menurut Tyson dan Caroll menyatakan bahwa mengajar adalah sebuah cara dan sebuah proses hubungan timbal balik antara guru dengan siswa yang sama – sama aktif melakukan kegiatan. Sedangkan Tordif berpendapat bahwa mengajar adalah perbuatan yang dilakukan oleh seseorang (guru) dengan tujuan membantu dan memudahkan orang lain (siswa) untuk melakukan kegiatan belajar.

Adapun konsep baru tentang mengajar menyatakan bahwa mengajar adalah membina siswa bagaimana belajar, bagaimana berfikir dan bagaimana menyelidiki.

Berdasarkan uraian diatas dapat dipahami bahwa aktivitas yang sangat menonjol dalam pengajaran ada pada siswa. Namun, bukan berarti peran guru tersisihkan, tetapi diubah, kalau guru dianggap sebagai sumber pengetahuan, sehingga guru selalu aktif dan siswa selalu pasif dalam kegiatan belajar mengajar. Guru adalah seorang pemandu dan pendorong agar siswa belajar secara aktif dan kreatif.

Namun tidak semua calon pendidik mempunyai keberanian untuk mengajar. Banyak penyebab yang membuat pendidik takut untuk mengajar. Padahal yang sering terjadi, biasanya ketakutan-ketakuan itu muncul hanya ada dalam pikiran seseorang, dan belum tentu akan terjadi pada saat mengajar. Agar tumbuh keberanian pendidik dalam mengajar, salah satu yang bisa dilakukan adalah mencari terlebih dahulu apa penyebab ketakutan yang menghalangi keberaniannya untuk mengajar. Ketakutan-ketakutan tersebut biasanya ada dalam pikiran dan perasaannya dan menjadi beban pada saat mengajar. Beban mental inilah yang terkadang menjadikan proses belajar mengajar yang dilakukannya kurang efektif.

Beberapa faktor di bawah ini merupakan faktor yang dominan menjadi ketakutan untuk menjadi pengajar. Ketakutan yang pertama ialah:

  1. a)Merasa Tidak Mampu

Pendidik yang tidak mau menjadi guru ataupun pengajar biasanya merasa dirinya tidak mampu untuk mengajar. Terkadang  mereka merasa bahwa mengajar adalah pekerjaan bagi orang-orang yang telah benar-benar menguasai mata pelajaran yang akan diajarkan, dan ia merasa belum menguasai sepenuhnya. Ketakutan lain adalah bahwa selalu merasa tidak mampu menjelaskan dengan baik mata pelajaran yang akan diajarkan. Pendidik  juga merasa tidak bisa melakukan proses belajar mengajar, karenanya ia merasa takut bahwa apa yang diajarkan tidak bisa diterima dengan baik oleh peserta didik atau murid-muridnya.

Padahal, yang sering terjadi adalah, biasanya ketakutan seperti itu hanya ada dalam pikiran, karena saat kita sudah mulai mengajar, ketakutan itu akan dengan sendirinya hilang. Karena itulah, seharusnya seorang guru berani untuk  mencoba.

  1. b)Takut Kehilangan Kata-Kata

Salah satu ketakutan terbesar seseorang saat mengajar adalah takut kehilangan kata-kata di tengah-tengah mengajar. Banyak faktor yang mungkin terjadi yang menyebabkan calon pendidik atau pendidik kehilangan kata-kata. Tetapi faktor utama adalah karena di dalam pikirannya terjadi apa yang disebut sebagai “blank”, yaitu pikiran seakan kosong. Pada saat pikiran dalam keadaan kosong, maka seorang guru tidak bisa mengucapkan kata-kata. Berbagai kalimat yang disusun rapi seakan hilang atau menyangkut di tenggorokan. Ditambah dengan kekalutan dan kepanikan, yang terjadi kemudian adalah keringat dingin yang keluar pertanda ia mengalami nervous dan gugup.

Kondisi seperti inilah yang menjadi titik kritis dalam proses belajar mengajar. Jika guru mampu keluar dari situasi kritis dengan baik, maka ia akan mampu mengembalikan keadaan seperti semula. Tetapi jika ia tidak mampu keluar dari situasi ini, kepanikan itu akan terus bertambah dan merusak proses belajar mengajar secara keseluruhan. Ada beberapa sebab yang memungkinkan guru mengalami kehilangan kata-kata. Salah satunya adalah karena ia menghapalkan materi kata demi kata secara langsung. Akibatnya, saat ia lupa akan satu kata atau kalimat, maka ia tidak bisa melanjutkan kalimat-kalimat berikutnya.

Untuk bisa mengatasinya, cobalah untuk memahami materi secara komprehensif sehingga tidak perlu menghapalkan semuanya kata per kata. Jika takut lupa, buatlah poin-poin penting berupa catatan yang bisa dilakukan di kertas kecil atau slide presentasi. Dengan menguasai gambar besar pengajaran akan memudahkan bagi guru untuk menghadapi berbagai situasi apapun, termasuk lupa akan apa yang akan diucapkan.

Kehilangan kata-kata bisa juga disebabkan karena tekanan mental yang sangat kuat bahwa guru harus tampil baik. Tekanan untuk tampil sempurna menjadikannya terbebani mental dan pikirannya yang mengakibatkan ia kehilangan kata-kata. Salah satu cara untuk mengembalikan situasi menjadi lebih baik adalah dengan membuat jeda beberapa menit. Jeda ini bisa dilakukan dengan berbagai cara, mulai dari memberikan lembar kerja dan kuesioner yang harus diisi oleh siswa, memberikan beberapa pertanyaan yang harus dijawab secara tertulis, memutar lagu atau video, membuat permainan kelompok, dan berbagai aktifitas lain yang intinya melibatkan siswa.

Di satu sisi peserta mendapatkan variasi metodologi sementara di sisi lain berbagai kegiatan yang dilakukan tersebut memberikan waktu bagi guru untuk berpikir sejenak, melihat-lihat materi yang ada, dan mengembalikan kembali energi dan kepercayaan diri yang sempat hilang sebelumnya.

  1. c)Takut Melakukan Kesalahan

Biasanya guru menginginkan proses belajar mengajar yang baik, sempurna, dan semua rencana bisa berjalan dengan lancar. Guru juga menginginkan agar siswa bisa memahami apa yang disampaikan sehingga tujuan pengajaran bisa tercapai. Namun yang harus disadari, bahwa setiap manusia mempunyai potensi untuk berbuat kesalahan pada saat presentasi. Bukan saja karena ia secara pribadi adalah manusia biasa, tetapi juga karena ia berhubungan dengan banyak orang, di mana terdapat berbagai hal yang ada di luar kontrolnya. Siswa misalnya, adalah orang lain yang ada di luar dirinya.

Dengan menyadari secara benar bahwa terdapat banyak faktor luar pada saat ia mengajar, maka potensi kesalahan selalu mungkin terjadi. Kesadaran ini akan memberikan pemahaman bahwa jika terjadi kesalahan adalah hal manusiawi. Paradigma ini menjadi penting agar kita tidak kehilangan kepercayaan diri dan panik pada saat terjadi kesalahan. Bahkan, kesalahan adalah cara terbaik pengajar untuk terus belajar. Dengan mengetahui berbagai kesalahan yang dilakukannya, ia akan segera bisa memperbaikinya di masa mendatang. Ketakutan melakukan kesalahan hanya akan menghalanginya untuk bisa memperbaiki keterampilan mengajarnya menjadi lebih baik. Semakin banyak melakukan kesalahan, jika ia mampu belajar dari kesalahan tersebut, lambat laun akan semakin baik cara mengajar yang dilakukannya.

Kesalahan pada saat mengajar jangan dianggap sebagai bencana yang akan menghancurkan seluruh sendi kehidupan kita. Justru karena kesalahan itulah proses belajar mengajar yang kita lakukan semakin membaik dari hari ke hari. Yang harus dilakukan pada saat melakukan kesalahan adalah tetap tenang dan berusaha untuk selalu menguasai keadaan. Kesalahan-kesalahan kecil, misalnya spidol terjatuh pada saat menulis, atau menumpahkan air di atas meja, atau salah dalam menjawab, dan berbagai kesalahan lain tidak perlu dihadapi dengan kepanikan. Berusahalah untuk tetap tenang, perbaiki kesalahan yang ada, dan teruskanlah mengajar seakan kesalahan itu tidak pernah terjadi.

Namun demikian, tentu saja tidak semua kesalahan bisa ditolerir. Kesalahan fatal, salah materi misalnya adalah kesalahan besar yang tidak boleh dilakukan pengajar profesional. Karena itulah, jika kesalahan-kesalahan dan kekurangan yang terjadi bisa diperbaiki dari waktu ke waktu, maka kesalahan tersebut akan semakin bisa diminimalisir. Keterampilan seseorang tidak bisa didapatkan sekaligus dalam satu waktu. Jika kita menginginkan tidak lagi melakukan kesalahan dalam waktu instan, hal itu sulit dilakukan.

Cara guru belajar dari kesalahan, bagaimana meminimalisir kesalahan akan terjadi secara bertahap sedikit demi sedikit. Kunci dari semua itu adalah jam terbang sehingga pada saat mengajar selanjutnya kesalahan dan kekurangan yang terjadi bisa diperbaiki. Lakukan persiapan yang matang agar kesalahan bisa diminimalisir. Sebelum proses belajar mengajar berjalan, lakukanlah cek dan ricek terhadap seluruh peralatan dan persiapan mengajar yang ada, apakah semua berjalan dengan baik atau belum. Jika semuanya sudah dilakukan, kita tinggal menyerahkan semua pada Tuhan agar memberikan kemudahan. Itu akan membuat kita menjadi lebih yakin dan tenang.

  1. d)Takut Siswa Tidak Paham

Ketakutan selanjutnya dalam mengajar adalah takut bahwa apa yang guru sampaikan tidak dipahami oleh siswa. Jika apa yang kita sampaikan tidak dipahami, tentu hal itu akan merisaukan. Namun, ketakutan semacam ini biasanya terjadi lebih karena kekhawatiran melihat situasi dan kondisi yang berkembang selama proses belajar mengajar.

Untuk bisa mengatasi ketakutan semacam ini, persiapan materi menjadi penting. Perkaya materi yang ada dengan berbagai hal yang kontekstual sehingga membuat siswa mau memperhatikan. Keengganan memperhatikan inilah yang menjadi awal dari rasa kegugupan kita seakan-akan mereka tidak memahami apa yang kita bicarakan.

Persoalan gaya bahasa dan cara mengajar juga menjadi faktor lain mengapa siswa tidak paham. Gaya bahasa untuk anak Sekolah Dasar tentu berbeda dengan Sekolah Menengah Pertama dan juga Sekolah Menengah Atas. Perlu dibedakan gaya bahasa yang kita pakai sehingga memudahkan siswa dalam menangkap apa yang kita jelaskan. Jika terlihat bahwa siswa diam dan tidak menunjukkan reaksi, tidak perlu berkecil hati dulu. Mungkin mereka memang secara karakter pribadi lebih banyak pendiam. Cobalah untuk memancing pertanyaan kepada mereka, ataupun menawarkan diri jika ada yang ingin bertanya. Dengan membuka ruang interaksi dengan siswa atau audien, diharapkan mulai ada respon yang muncul di antara mereka.

  1. e)Takut Tidak Bisa Menjawab

Satu sesi yang biasanya ingin dihindari oleh pengajar, terutama pengajar yang baru memulai adalah sesi tanya jawab. Tanya jawab dianggap sebagai salah satu hal yang menakutkan. Pertama, sebut saja takut pertanyaan yang diajukan terlalu tinggi sehingga sulit untuk dijawab. Ketakutan lain adalah adanya pertanyaan-pertanyaan lain yang memang secara sengaja ditujukan untuk menguji pengajar. Hal lain yang ditakutkan apakah jawabannya memuaskan bagi si penanya, apakah terasa dangkal, atau bisa dipahami secara baik atau tidak.

Berbagai pertanyaan dan ketakutan di atas memang wajar mengemuka , dan menjawab pertanyaan secara baik adalah seni tersendiri yang harus selalu dipelajari dan dikembangkan. Mempersiapkan sebanyak mungkin jawaban dari pertanyaan-pertanyaan yang mungkin timbul akan membuat pengajar lebih siap pada sesi tanya jawab.

  1. f)Takut Peralatan Tidak Berfungsi

Pada proses belajar mengajar modern sekarang ini, alat bantu presentasi dan pengajaran dengan berbagai fiturnya yang menarik sudah menjadi bagian tidak terpisahkan. Sudah banyak pengajar menggunakan berbagai peralatan mengajar, terutama komputer ataupun laptop dan proyektor. Walaupun biasanya sudah dipersiapkan dengan baik, terkadang yang terjadi, tidak semua peralatan bisa berjalan dengan baik. Terkadang laptop yang sudah ada filenya ternyata tidak cocok dengan proyektor yang tersedia. Ataupun terkadang microphone bermasalah, karena mendengung ataupun mati.

Cara paling mudah untuk menghilangkan ketakutan ini adalah dengan memeriksa semua peralatan yang ada apakah berfungsi semua atau tidak. Nyalakan laptop dan mulailah mengecek apakah sesuai dengan projector yang tersedia atau tidak. Jika sudah sesuai, maka tidak lagi menjadi soal. Akan tetapi jika tidak sesuai, tentu harus dicari penyebabnya, apakah ada setting yang harus disesuaikan atau ada masalah lain. Selesaikan masalah dengan segera sebelum proses belajar mengajar dimulai.

Jangan lupa untuk menyiapkan rencana cadangan, karena terkadang kemungkinan tidak berfungsinya peralatan itu sering terjadi. Rencana cadangan itu misalnya dengan menyiapkan materi presentasi di dalam CD ataupun Fash Disk, sehigga pada saat laptop tidak bisa dibuka atau tidak cocok dengan proyektor, bisa digunakan laptop lain.

Perlu juga diperhatikan letak kabel-kabel yang tersambung ke beberapa peralatan tersebut. Usahakan untuk tidak menghalangi jalan, dan letakkanlah di tempat yang tidak banyak dilalui orang, di pojokan misalnya. Kabel-kabel yang ada dirapihkan, agar tidak berserakan. Semua itu dilakukan agar di tengah-tengah proses belajar mengajar tidak ada kabel yang tertendang sehingga menyebabkan listrik mati, yang mengakibatkan matinya berbagai peralatan tersebut.

  1. g)Takut Mengajar Tidak Menarik

Setiap pengajar biasanya dibebani dengan satu tekad untuk menjadikan proses belajar mengajarnya menarik di hadapan siswa. Tekad itu begitu kuat karena ia ingin membuat kesan yang baik. Karena itulah biasanya ia mempersiapkan segala sesuatunya secara matang. Materi pengajaran dipersiapkan secara baik dan mendalam, desain slide presentasi dibuat dengan menarik, penampilan juga diperhatikan. Pada intinya, ia mengelola semua faktor dengan baik agar pengajarannya berkesan. Tuntutan untuk melakukan proses pengajaran yang baik terkadang tidak hanya datang dari dirinya, tetapi juga biasanya datang dari atasan atau supervisor yang membawahinya. Mereka biasanya menuntut agar kita bisa menyampaikan sesuatu secara baik sehingga proses belajar mengajar menjadi lebih efektif.

Dengan tuntutan yang begitu besar, terkadang bukan malah membangkitkan motivasi guru untuk melakukannya lebih baik. Dalam beberapa kasus, tuntutan besar ini menjadi beban mental yang berat. Ia terbebani untuk bisa tampil sempurna di hadapan siswa. Beban berat itu akhirnya bisa menjadi bumerang, karena pengajar akhirnya tampil tidak lepas, kaku, dan demam panggung. Karena itu, sangat penting bagi pengajar untuk merasa rileks dan lepas dalam mengajar. Kepercayaan diri yang kuat akan menjadi kunci bagaimana membuat mengajar yang kita lakukan menarik. Kepercayaan diri yang tinggi membuat apa yang kita sampaikan menjadi lebih meyakinkan.

Baca Artikel Lainnya: